https://manado.times.co.id/
Berita

Angkutan Sekolah Dinilai Efektif, DPRD Pacitan: Anak Fokus Belajar, Orang Tua Tenang

Senin, 05 Januari 2026 - 14:15
Angkutan Sekolah Dinilai Efektif, DPRD Pacitan: Anak Fokus Belajar, Orang Tua Tenang Angkutan sekolah SMPN 1 Tegalombo Pacitan. (Foto: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES MANADO, PACITAN – Upaya menekan kebiasaan pelajar di bawah umur mengendarai sepeda motor di Kabupaten Pacitan mulai menunjukkan arah yang jelas. Program kolaborasi antarjemput siswa menggunakan angkutan umum yang dijalankan sejumlah sekolah mendapat apresiasi dari DPRD Pacitan.

Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko, menilai inovasi tersebut sebagai langkah realistis dan solutif di tengah tingginya risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar.

“Artinya inovasi ini sangat bagus dan tentunya dari orang tua dan sekolah tidak punya rasa waswas dan kekhawatiran terkait dengan anaknya,” ujar Rudi Handoko, Senin (5/1/2026).

Menurut Rudi, program angkutan sekolah sejalan dengan penegasan Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar yang melarang anak-anak yang belum cukup umur mengendarai sepeda motor. 

Penekanan itu, kata dia, bukan sekadar penertiban, melainkan bentuk perlindungan terhadap keselamatan anak-anak.

Para-siswa-SMPN-3-Pringkuku-Pacitan.jpgAngkutan sekolah di SMPN 3 Pringkuku Pacitan. (Foto: Dok TIMES Indonesia)

Ia menilai, ketika urusan berangkat dan pulang sekolah sudah tertangani dengan baik, siswa bisa lebih fokus pada kegiatan belajar.

“Ini membuat anak lebih konsen belajar dan fokus, tidak kepikiran soal pulang dan berangkat sekolah pakai apa,” jelasnya.

Meski demikian, Rudi mengingatkan agar tanggung jawab tidak sepenuhnya dibebankan pada sekolah. Peran orang tua, menurutnya, justru menjadi penentu utama keberhasilan program ini.

“Harapan saya, orang tua harus tetap mengawasi anak-anaknya. Kan percuma, kalau ke sekolah dilarang pakai motor, tapi di rumah dibiarkan pakai motor,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi kendaraan pelajar yang kerap tidak memenuhi standar keselamatan. Mulai dari lampu yang tidak menyala hingga kelengkapan lain yang diabaikan.

“Belum lagi soal kelengkapan kendaraan yang tidak ada lampu dan lain-lain. Ini menjadi perhatian bersama. Tidak hanya di sekolah, tapi keseharian perlu pengawasan ekstra dari orang tua,” tambahnya.

Dukungan terhadap program angkutan sekolah juga datang dari Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan. Meski implementasinya masih terbatas, Dindik menilai program ini sebagai solusi konkret untuk meningkatkan keselamatan pelajar.

Saat ini, baru enam sekolah negeri di Pacitan yang aktif menjalin kerja sama dengan angkutan umum. 

Kerja sama tersebut bertujuan menyediakan sarana transportasi yang aman dan terjangkau bagi siswa, sekaligus menekan penggunaan sepeda motor oleh pelajar di bawah umur.

Kepala Dindik Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menyebut pihaknya terus mendorong sekolah-sekolah lain agar ikut bergabung dalam program serupa.

Fokus utama Dindik, kata dia, adalah memberikan dukungan agar sekolah memiliki opsi transportasi yang aman bagi siswa, terutama di wilayah dengan kondisi jalan yang berisiko.

SMPN-1-Tegalombo-Pacitan-2.jpgBus sekolah SMPN 1 Arjosari Pacitan. (Foto: Dok TIMES Indonesia)

Di lapangan, masing-masing sekolah menerapkan pola yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. SMPN 1 Tegalombo, misalnya, memilih memanfaatkan armada andongan sebagai sarana antarjemput siswa.

Kepala SMPN 1 Tegalombo, Subroto, melalui guru Bambang Setyo Utomo, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menekan penggunaan sepeda motor oleh siswa.

“Untuk mengurangi dan menekan angka siswa yang menggunakan kendaraan bermotor (sepeda motor) ke sekolah, salah satu solusi konkret di SMPN 1 Tegalombo saat ini adalah memanfaatkan jemputan andongan. Kami menyiasatinya dengan menggandeng wali murid yang memiliki armada tersebut. Jadi, skemanya adalah kerja sama sekaligus pemberdayaan orang tua,” kata Bambang.

Model berbeda diterapkan SMPN 3 Pringkuku melalui program Kesangkot Candi. Program ini lahir dari kebutuhan menekan angka kecelakaan pelajar di jalur wisata selatan Pacitan yang setiap hari dilalui kendaraan wisatawan menuju pantai-pantai populer.

Kesangkot Candi merupakan singkatan dari Ke Sekolah Anak Naik Angkutan dengan Cantik dan Indah. Program ini melayani siswa dari Desa Dadapan, Poko, Candi, Jlubang, hingga Watukarung yang digabung dalam satu rute bernama DAKOCANJLURUNG.

Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng sopir angkutan desa yang dikenal dengan sebutan “Bolo Rodo”. Selain menjaga keselamatan siswa, kerja sama ini juga memberikan penghasilan rutin bagi para sopir.

Satlantas Polres Pacitan turut terlibat dengan melakukan pengecekan kelaikan kendaraan secara berkala, guna memastikan armada yang digunakan benar-benar aman bagi pelajar.

Program ini bukan hal baru. Kesangkot Candi sudah dijalankan sejak 2012, saat SMPN 3 Pringkuku dipimpin M. Rizal Abadi. Kala itu, pihak sekolah menaruh perhatian serius pada tingginya risiko kecelakaan siswa di bawah umur yang mengendarai sepeda motor di jalur wisata yang sempit dan padat.

“Solusinya adalah mengembalikan siswa ke angkutan desa. Jalur ini rawan dan tidak aman bagi pelajar,” ujar Rizal Abadi.

Memasuki tahun ajaran 2025/2026, program tersebut diperkuat sebagai bagian dari budaya tertib berlalu lintas di lingkungan sekolah di bawah kepemimpinan Kepala SMPN 3 Pringkuku, Wangsit Kurniawan.

Program Kesangkot Candi bahkan dipaparkan dalam forum lalu lintas yang digelar Polres Pacitan pada Kamis (2/10/2025). 

Dalam forum tersebut, perwakilan guru Ratih Hendarti, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga membangun interaksi sosial positif antarsiswa.

“Tujuannya agar siswa merasa aman dan nyaman saat berangkat dan pulang sekolah. Ini bentuk sinergi antara sekolah, kepolisian, dan masyarakat,” ujar Wangsit Kurniawan.

Hingga akhir 2025, SMPN 3 Pringkuku mencatat hampir tidak ada kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan siswanya. Orang tua merasa lebih tenang, sementara siswa terbiasa disiplin dan tertib berlalu lintas sejak dini.

Bus Sekolah Atasi Keterlambatan Siswa

Plt Kepala SMPN 1 Arjosari, Pujo Basuki, mengatakan keberadaan bus sekolah menjadi solusi konkret atas persoalan transportasi yang selama ini sulit diatasi.

“Kami sangat mendukung adanya bus sekolah. Ini sangat memudahkan siswa dalam perjalanan menuntut ilmu. Dulu, alasan klasik siswa terlambat karena tidak ada angkutan yang pasti, sementara tidak semua orang tua bisa mengantar anaknya ke sekolah setiap hari,” kata Pujo Basuki, Rabu (12/12/2025).
Pujo menjelaskan, sejak bus sekolah beroperasi, kedatangan siswa menjadi lebih teratur. Bus berangkat dan tiba sesuai jadwal yang telah ditentukan, sehingga sekolah dapat mengendalikan jam masuk dengan lebih disiplin.

Menurutnya, persoalan keterlambatan sebelumnya bukan semata faktor kedisiplinan siswa, melainkan kondisi geografis dan keterbatasan sarana transportasi di wilayah Arjosari dan sekitarnya.

“Dengan adanya bus sekolah, kendala jarak dan transportasi bisa ditekan. Sekolah juga lebih mudah mengatur kegiatan belajar karena siswa datang tepat waktu,” ujarnya.

Selain memastikan kehadiran siswa, program ini juga bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi oleh peserta didik, khususnya sepeda motor, yang berisiko terhadap keselamatan lalu lintas.

Beban Orang Tua Berkurang

Dampak positif bus sekolah juga dirasakan langsung oleh orang tua siswa. Mereka tidak lagi harus menyesuaikan jam kerja untuk mengantar dan menjemput anak setiap hari.

“Orang tua sekarang lebih tenang. Mereka bisa fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga tanpa harus terbebani kewajiban antar-jemput anak,” kata Pujo Basuki.

Kondisi tersebut semakin terasa saat musim hujan. Risiko anak kehujanan atau terlambat akibat cuaca buruk dapat diminimalkan.

Siswa Merasakan Manfaat Langsung

Dari sisi siswa, bus sekolah memberikan kepastian dan kenyamanan. Sintya Azzahra, salah satu siswi SMP Negeri 1 Arjosari, mengaku aktivitas berangkat dan pulang sekolah kini jauh lebih lancar.

“Semenjak ada bus sekolah, sekarang lebih enak. Tidak terlambat lagi dan tidak perlu menunggu jemputan sampai sore kalau orang tua sedang sibuk bekerja,” ujar Sintya.

Ia menilai bus sekolah membantu siswa lebih fokus pada kegiatan belajar karena tidak lagi dibebani persoalan transportasi.

Berbagai praktik angkutan sekolah di Pacitan tersebut diharapakan menjadi solusi untuk menekan angka kecelakaan pelajar,  juga membangun kesadaran bersama tentang pentingnya keselamatan dan kedisiplinan berlalu lintas. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Manado just now

Welcome to TIMES Manado

TIMES Manado is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.